Daya Matematika

Daya Matematika adalah . . . . . .

Mathematical Attitude

Mathematical Attitude adalah . . . . . .

Mathematical Content

Mathematical Method Content adalah . . . . . . .

Mathemtical Method

Mathematical Method adalah . . . . . . .

Senin, 10 Februari 2020

Daya Matematika

Daya matematika atau dalam bahasa inggris di sebut "empower" yang memiliki arti secara bahasa yaitu "to give power or authority to; authorize, especially by legal or official means" atau "to enable or permit" yang jika dalam bahasa Indonesia artinya memberikan kewenangan kekuasan atau memberikan izin. Jika di terapkan dalam konteks pendidikan dan pengajaran matematika 'daya matematika' dapat dicerminkan dalam kalimat kedua dari kalimat dibawah :
'Jika kamu memberi seseorang ikan maka kamu akan memberi makan dia hari ini, tetapi jika kamu mengajari seseorang memancing maka kamu memberikan dia makan seumur hidup'
Pada kalimat yang kedua terlihat bagaimana peran guru bukan memberi sesuatu yang instan akan tetapi lebih menanamkan kepada hal yang bisa berlaku untuk jangka panjang dan berulang-ulang sehingga siswa 'diberdayakan' dalam belajar bukan hanya sebagai penerima.

Dalam daya matematika menurut Kaur dan Hoe (2017) terdapat beberapa aspek penting dalam proses belajar mengajar diantaranya yaitu : 
(1) Memberdayakan siswa melalui konten matematika 
(2) Memberdayakan siswa melalui proses kognitif dan afektif
(3) Memberdayakan siswa melalui tugas yang dirancang sedemikianrupa
(4) Memberdayakan siswa dengan mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan di abad-21
Berdasarkan refleksi dari perkuliahan pertama oleh Prof. Marsigit dalam daya matematika yang di berdayakan adalah Mathematical thinking dimana dalam Mathematical Thinking terdiri dari Mathematical attitude, Mathematical Content dan Mathematical Method.

Dari kedua pendapat tersebut terlihat beberapa hal yang saling beririsan yaitu dalam daya matematika perlu memahami konten (mathematical content), kognitif dan afektif (mathematical attitude) dan juga cara merancang dan memberikan tugas terkait matematika (mathematical method). Sehingga dalam kurikulum S-2 Pendidikan Matematika untuk mata kuliah daya matematika di rancang sedemikian rupa untuk memenuhi aspek-aspek yang telah di sebutkan diatas yang kemudian dihubungkan satu sama lain dan menjadi satu kesatuan sebagai mathematical thinking. Sehingga cakaupan dalam daya matematika sangat luas yang tujuan utamanya untuk menyiapkan guru matematika yang mampu memberikan bekal kepada siswa yang dapat dipakai oleh siswa secara berulang-ulang bahkan seumur hidup untuk menghadapi tantangan dunia nyata yang sebenarnya bukan bekal yang hanya untuk tujuan jangka pendek dan setelahnya sulit untuk diterapkan bahkan dilupakan.

Harapannya dengan memberdayakan siswa dalam belajar matematika dapat menghadapi tantangan dan tuntutan dalam lingkup dunia yang berubah dengan cepat saat ini.








Rabu, 16 Maret 2016

Materi Segitiga

PPT Sistem Koordinat

Mencari Banyak Segitiga

video pembuktian Teorema Pythagoras

Cara Melukis Segitiga

Selasa, 15 Maret 2016

Luas Segitiga Siku-siku

Senin, 14 Maret 2016

Homeschooling

HOMESCHOOLING

Homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak. Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya. Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.
Keberadaan homeschooling Indonesia telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (10) yang berbunyi:
“Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri”
Dalam praktek homeschooling tidak harus memenuhi penyetaraan pendidikan. Pendidikan kesetaraan adalah hak dan bersifat opsional. Jika praktisi homeschooling menginginkannya, mereka dapat menempuhnya. Jika tidak, mereka tetap dapat memilih dan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tetapi Penyetaraan ini digunakan untuk dapat dihargai dan setara dengan hasil pendidikan formal, tentu setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Penyetaraan dalam praktek homeschooling yaitu penyetaraan ujian, penilaian, penyelenggaraan, dan tujuan pendidikan. Pendidikan kesetaraan dalam ujian nasional meliputi program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA.


Kelebihan homeschooling:
  • Customized, sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
  • Lebih memberikan peluang untuk kemandirian dan kreativitas individual yang tidak didapatkan dalam model sekolah umum.
  • Memaksimalkan potensi anak sejak usia dini, tanpa harus mengikuti standar waktu yang ditetapkan di sekolah.
  • Lebih siap untuk terjun di dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari yang ada di sekitarnya.
  • Kesesuaian pertumbuhan nilai-nilai anak dengan keluarga. Relatif terlindung dari paparan nilai dan pergaulan yang menyimpang (tawuran, drug, konsumerisme, pornografi, mencontek, dsb).
  • Kemampuan bergaul dengan orang tua dan yang berbeda umur (vertical socialization).
  • Biaya pendidikan dapat menyesuaikan dengan keadaan orang tua

Kekurangan homeschooling:
  • Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orang tua
  • Sosialisasi seumur (peer-group socialization) relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial.
  • Ada resiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan.
  • Perlindungan orang tua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi.

Sumber :
NN. Pengertian Homeschooling Indonesia.

http://www.psikologizone.com/pengertian-homeschooling-indonesia/06511347